You are currently viewing Hazardous Material | PT. Ayana Duta Mandiri
Hazardous Material | PT. Ayana Duta Mandiri

Hazardous Material | PT. Ayana Duta Mandiri

gambar hazmat

Perkembangan industri manufaktur saat ini yang semakin pesat kian meningkatkan jumlah pemakaian bahan-bahan kimia beracun dan berbahaya atau B3. Jika pengelolaan dan penanganannya tidak tepat, maka sasarannya adalah kesehatan dan keselamatan kerja. Untuk itu, dibutuhkan upaya-upaya pencegahan maupun penanganan yang lebih serius dalam hal ini.

Adapun upaya menangani dan meminimalkan risiko terjadinya kondisi-kondisi berbahaya dari pemanfaatan bahan kimia berbahaya tersebut, yaitu dengan menerapkan protokol keselamatan dan keamanan kerja. Salah satunya dapat berupa Hazardous Material Handling atau Hazmat. Hazmat (Hazardous Material) ini merupakan istilah untuk bahan-bahan atau material berbahaya.

Sekilas tentang Hazmat (Hazardous Material)

Hazmat (Hazardous Material) pada dasarnya juga lebih sering disebut sebagai salah satu perlengkapan APD, selain kacamata atau pelindung muka, sarung tangan, dan penutup kepala. Pakaian keselamatan kerja ini umumnya digunakan oleh para pekerja yang terlibat langsung dengan penggunaan zat kimia berbahaya atau yang bertugas di lingkungan kerja yang memiliki risiko tinggi akan kontaminasi material berbahaya. Beberapa diantaranya seperti tenaga medis, peneliti, pemadam kebakaran, maupun pekerja dalam industrial.

Untuk itu, Hazardous Material Handling atau Hazardous Material Management merupakan suatu upaya pengendalian bahan atau material berbahaya yang berada di lingkungan kerja. Upaya ini dibutuhkan untuk mencegah dan meminimalkan risiko bahan-bahan berbahaya yang dapat muncul akibat penggunaannya di tempat kerja. Meskipun demikian, upaya pengendalian ini juga membutuhkan suatu prosedural khusus yang berdasar pada pedoman keamanan dan keselamatan kerja yang berlaku.

Hazmat, Pelindung Diri dari Bahaya

Bekerja di industri tentu tak lepas dari risiko berbahaya. Salah satunya adalah paparan bahan kimia. Untuk melindung pekerja dari bahaya tersebut maka pemakaian Hazardous Material atau Hazmat di perusahaan atau pabrik wajib dilakukan. Bukan sekadar memakai, karyawan terkait mulai dari pelaksana di lapangan sampai jajaran manager harus memahami teori dan praktik Hazmat.

Training Hazmat bertujuan untuk memberikan pemahaman terkait pentingnya penerapan, penanganan, dan penyimpanan bahan kimia berbahaya dan beracun. Banyak karyawan yang tidak mengetahui hal tersebut. Apalagi mereka yang tidak memiliki latar belakang keilmuan kimia.

Kedua, untuk memberikan bekal pengetahuan teknis dalam pengelolaan bahan kimia. Tidak terkecuali bahan kimia beracun dan berbahaya (B3). Karyawan, diharapkan mampu memiliki keahlian dalam memecahkan masalah terkait penyimpanan dan penanganan bahan beracun berbahaya (B3).

Pelatihan atau Training Hazmat bisa dilakukan secara berkala. Pelatihan mulai dari pembekalan teoretis, diskusi kelompok, presentasi individu atau kelompok, studi kasus, praktik manajemen Hazmat. Untuk membuat peserta rileks, ada games atau permainan terkait materi yang disampaikan.

Intip Isi Materi Training Hazmat

Lalu, apa saja sih materi yang disampaikan dalam Training Hazmat tersebut? Materi diberikan mulai dari dasar sampai praktik. Trainer yang memberikan materi pun memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup di bidangnya.

Manajer juga harus mengikuti training ini, karena penting untuk pengambilan kebijakan. Selain itu agar jajaran manajer juga bisa ikut mengidentifikasi apabila ada kesalahan atau terjadi kecelakaan kerja. Sehingga analisis lebih komprehensif.

Materi yang diberikan, secara garis besar terkait karakteristik B3. Peserta akan diberikan pengetahuan terkait B3 menurut beleid atau perundangan yang berlaku. Apa saja yang masuk kategori B3, ini wajib diketahui sebagai pengantar awal dan pengetahuan dasar.

Peserta juga diberikan materi peraturan apa saja yang terkait dengan B3. Selanjutnya Simbol dan tanda yang digunakan dalam B3. Setiap perusahaan bisa berbeda satu sama lain, tergantung jenis bahan kimia yang digunakan.

Dalam materi ini, peserta juga akan diberi teknis pengendalian B3 dan limbah B3. Selain itu pengendalian secara teknis dan operasional juga akan dibahas dalam pelatihan tersebut. Peserta juga akan dibekali pengetahuan terkait pengendalian dokumen B3, agar administrasi pabrik juga tertata dengan rapi.

Peserta juga akan diberikan pelatihan terkait metode yang tepat sehingga tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Paling penting diketahui adalah bagaimana cara menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang tepat.

Dalam pelatihan Hazmat, peserta juga akan diberi materi terkait MSDS atau Material Safety Data Sheet. Peserta akan diberikan pemahaman yang tepat dan benar terkait penggunaan data dan pengeloaan data yang menandai B3.

Analisis risiko, cara atau teknik pemantauan B3, bagaimana cara mengatasi tanggap darurat bila terjadi bahaya B3. Selain itu ada juga komunikasi yang dimengerti oleh semua peserta pelatihan.

Bahan B3 yang ada bukan hanya ‘dijaga’ saja. Akan tetapi, penyimpanannya juga harus tepat. Apalahi B3 yang berbentuk cair, jika merembes dan itu berbahaya tentu akan memicu terjadinya kecelakaan kerja.

Kenali Bahan Berbahaya

Membincangkan Hazmat, pasti tak lepas dari bahan berbahaya. Sebetulnya apa sih bahan berbahaya itu? Pengertian dari bahan berbahaya adalah bahan yang memiliki sifat asal menimbulkan iritasi, ledakan, kebakaran. Bahkan pada beberapa jenis bahan membahayakan kesehatan.

Pabrik atau industri manufaktur pasti tak lepas dari bahan berbahaya. Apalagi pabrik atau kilang pengolahan bahan bakar. Pastilah ada penggunaan bahan kimia berbahaya dalam pekerjaan sehari-hari. Ada tiga jenis bahan kimia yang kerap digunakan di pabrik. Yaitu bahan kimia padat, cair, dan gas.

Dari ketiga jenis tersebut, gas adalah bahan kimia yang paling berbahaya. Gas tidak berwarna, sehingga tidak dapat terlihat jelas. Kalaupun berwarna, itu sangat tipis dan nyaris tak terlihat. Bahan kimia cair, menempati urutan kedua dalam penggunaan bahan kimia berbahaya.

Pekerja yang menggunakan bahan kimia cair, harus berhati-hati. Penggunaan bahan kimia cair harus tepat dan tidak boleh sembarangan. Pastikan wadah atau tempat penyimpanan bahan kimia cair tertutup dengan sempurna. Jangan sampai bahan kimia tersebut tumpah atau merembes. Sebab ada bahan kimia tertentu yang berpotensi bahaya jika ada rembesan atau tumpahan.

Bahan kimia berbentuk padat relatif lebih aman penggunaannya, ketimbang cair dan gas. Kendati demikian pengunaannya harus tetap berhati-hati dan sesuai dengan prosedur. Jika tidak hati-hati, bisa berbahaya bukan hanya bagi manusia akan tetapi juga untuk peralatan yang ada di sekitar lokasi penyimpanan bahan kimia.

Penandaan Bahan Kimia Berbahaya

Dalam pelatihan tersebut, peserta juga akan diberi pengetahuan mana saja jenis bahan kimia yang berbahaya. Misal pengelompokan berdasarkan jenis yang ditandai dengan huruf atau tanda lainnya. Ini harus dipahami sehingga tidak terjadi kecelakaan kerja akibat ketidaktahuan pekerja.

Supaya lebih mudah, penandaan bahan berbahaya secara umum menggunakan abjad A,B,C, dan D, misalnya:

  • Untuk menandakan bahan berbahaya kebakaran dan mudah meledak atau Fire and Explosion Hazard.
  • Untuk menandakan bahan berbahaya yang beracun atau Toxity Hazard.
  • Untuk menandakan bahan berbahaya berdasarkan sifat reaksinya atau reactivity .
  • Untuk menandakan bahan berbahaya untuk pencemaran lingkungan atau Enviroment Hazard.

Pabrik atau perusahaan bahan kimia di Indonesia perlu mengenali tanda atau simbol tersebut. Sebab Indonesia banyak mengimport bahan kimia dari banyak negara. Setiap negara juga memiliki kode yang berbeda. Jadi cermati dengan benar ya

Pelaksanaan Training Hazardous Material

Seperti ditulis sebelumnya peserta pelatihan ini bukan hanya karyawan dan supervisor yang berkaitan langsung dengan penanganan bahan B3 dan juga limbah B3. Peserta pelatihan juga termasuk pimpinan dan pengambil keputusan yang ada di perusahaan tersebut.

Peserta tidak hanya dijejali dengan teori. Akan tetapi juga praktik dan studi kasus. Tentu agar pengaplikasiannya tepat. Ada pula diskusi dengan para trainer andal yang membuat pengetahuan peserta pelatihan semakin kaya. Meningat studi kasus atau permasalahan yang dihadapi berbeda, maka diskusi interaktif sangat diperlukan untuk mendapatkan solusi.

Pelaksanaan training bisa digelar di kantor atau mengikuti jadwal dari penyelenggara di tempat yang telah ditentukan. Biaya yang dibanderol pun cukup terjangkau. Apalagi jika training tersebut diadakan satu kelompok. Biaya akan lebih murah adan efisien jika trainer diundang ke perusahaan.

Demikian ulasan terkait B3, limbah B3, dan training pelaksanaan Harzardous Material. Semoga bermanfaat dan semakin mantap untuk melaksanakan Training Hazardou Material sesegera mungkin. Pelatihan wajib diadakan apabila ada jenis material baru, karyawan baru, dan juga jajaran manjarial baru. Tujuannya agar update ilmu atau informasi terbaru dapat cepat dilaksanakan.

Pelatihan ini penting dan wajib diikuti oleh seluruh karyawan terkait. Lama pelaksanaan bergantung pada banyak sedikitnya materi yang diberikan, dan juga jumlah peserta. Sampai jumpa di kelas training B3, semoga kelas menyenangkan ya. Peserta pelatihan juga mendapat pengetahuan yang tepat dan sesuai untuk pekerjaan mereka sehari-hari.

Pelatihan Hazardous Material Handling

Seorang pekerja teknis dalam suatu wilayah kerja yang rentan akan risiko bahan atau material berbahaya sudah seharusnya dibekali dengan kecakapan khusus untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan bahan kimia yang ada. Selain itu, para pekerja ini juga sudah sepatutnya mengerti bagaimana menangani dan menyimpan bahan kimia B3 serta bagaimana prosedur pemantauan dan pengantisipasian berbagai risiko yang mungkin saja terjadi.

Oleh sebab itu, dibutuhkan suatu pelatihan khusus yang membahas mengenai Hazmat (Hazardous Material) bagi para industri atau perusahaan terkait. PT. Ayana Duta Mandiri bisa menjadi mitra yang tepat bagi perusahaan yang membutuhkan pelatihan seperti ini. Pasalnya, perusahaan ini telah berpengalaman dalam menjadi konsultan manajemen di bidang keamanan dan keselamatan di lingkungan kerja.

Leave a Reply