You are currently viewing Petugas K3 Fasilitas Kesehatan Sertifikasi BNSP | PT. Ayana Duta Mandiri
Petugas K3 Fasilitas Kesehatan Sertifikasi BNSP | PT. Ayana Duta Mandiri

Petugas K3 Fasilitas Kesehatan Sertifikasi BNSP | PT. Ayana Duta Mandiri

Fasilitas Kesehatan di Indonesia sebenarnya cukup lengkap. Mulai dari Rumah sakit, Klinik, Puskesmas, hingga laboratorium. Semua fasilitas kesehatan memiliki standar mutu yang berkualitas.

Untuk Training Rumah Sakit, sudah dibahas di artikel sebelumnya. Dalam artikel tersebut telah dibahas pentingnya menjaga mutu layanan serta tujuan mengikuti Training Rumah Sakit.

Salah satu cara menjaga mutu sebuah fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit adalah menjalankan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3). SMK3 ini bisa berlangsung dengan baik jika ada petugas khusus yang melakukan pengawalan, pelaksanaan, serta sosialisasi.

Dalam artikel ini, kita akan dibahas materi berkelanjutan dari Training Rumah Sakit, yakni mengenai training Petugas K3 Fasilitas Kesehatan. Jadi tidak hanya terbatas pada Rumah Sakit saja. Namun lebih luas lagi, mulai dari Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik, hingga laboratorium.

Pembahasan akan mencakup tentang pengertian fasilitas kesehatan, pentingnya petugas K3 dalam industri tersebut, hingga cara memperoleh sertifikat BNSP untuk Petugas K3 Fasilitas Kesehatan.

Apa Saja yang Masuk dalam Fasilitas Kesehatan?

Sebelum membahas mengenai peran Petugas Kesehatan, mari ulas terlebih dahulu mengenai apa itu fasilitas kesehatan. Fasilitas kesehatan merupakan tempat yang menyediakan layanan kesehatan untuk masyarakat umum.

Fasilitas kesehatan ini dibagi menjadi beberapa tingkatan. Apa saja itu?

  1. Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama

Fasilitas kesehatan tingkat pertama ini terdiri dari klinik, puskesmas, atau tempat praktek dokter mandiri. Pada tingkat pertama ini, fasilitas kesehatan yang diberikan adalah dasar. Jika pasien memiliki gejala penyakit khusus atau butuh penanganan lebih akan dirujuk ke fasilitas kesehatan kedua.

  1. Fasilitas Kesehatan Tingkat Kedua

Fasilitas kesehatan tingkat kedua terdiri dari rumah sakit kelas C dan D. Rumah sakit jenis C menyediakan 4 pelayanan spesialis dasar dan 4 spesialis penunjang medik. Sedangkan rumah sakit kelas D menyediakan layanan seperti Unit Gawat Darurat, rawat jalan, rawat inap, dan pelayanan kesehatan lainnya.

  1. Fasilitas Kesehatan Tingkat Ketiga

Fasilitas kesehatan tingkat ketiga adalah rumah sakit kelas A dan B. Fasilitas pelayanan kesehatan di rumah sakit dengan kelas ini sudah lebih lengkap. Memiliki peralatan yang mendukung, serta dokter spesialis lebih banyak.

K3 Fasilitas Kesehatan

Penerapan K3 di Fasilitas Kesehatan, seperti Rumah Sakit, sebenarnya memiliki payung hukum yang jelas. Hal tersebut diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No.66 tahun 2016. Sedangkan untuk penerapan K3 pada lingkup Fasilitas Kesehatan diatur dalam Permenkes No. 52 Tahun 2018.

Pasalnya, fasilitas kesehatan pun memiliki risiko kerja yang tinggi juga. Jadi memang dibutuhkan pembentukan aturan K3. Tujuan dari dibentuknya K3 ini adalah untuk menciptakan kondisi fasilitas kesehatan yang aman, nyaman, sehat, dan selamat.

Ada proses dalam penerapan K3 di fasilitas kesehatan ini. Berikut proses atau langkah melaksanakan K3 di fasilitas kesehatan.

  • Melakukan perencanaan K3 berdasarkan risiko yang ada dengan mengacu pada perundang-undangan.
  • Kebijakan K3 di fasilitas kesehatan harus disetujui oleh pimpinan, kemudian sosialisasikan pada karyawan.
  • Melaksanakan rencana K3 yang telah dibuat.
  • Melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap K3 yang telah dibuat setelah terselenggara.
  • Melaksanakan peninjauan dan peningkatan K3 yang ada.

Untuk bisa menerapkan K3 secara optimal dan efisien, memang dibutuhkan sumber daya manusia khusus. Tugasnya tentu saja memastikan K3 berjalan dengan baik. Selain itu juga harus menguasai ISO 45001: 2018. Untuk penjelasan lebih detail mengenai ISO 45001:2018 bisa baca artikel terkait dengan judul ISO 45001: 2018 (Occupational Health & Safety Management System-OHSMS).

Peran Petugas K3 Fasilitas Kesehatan

Setiap fasilitas kesehatan memiliki standar mutu masing-masing. Semakin tinggi tingkatannya, maka akan semakin besar pula dalam menjaga kualitas dan mutu pelayanan.

Termasuk menjaga keselamatan dan kesehatan kerja. Dalam fasilitas kesehatan pun dibutuhkan petugas yang bisa menjaga berlangsungnya manajemen K3. tugasnya tentu saja memastikan setiap pegawai dan pasien merasa aman, nyaman, serta sehat saat berada di fasilitas kesehatan.

Tugas seorang Petugas K3 di Fasilitas Kesehatan memang berat. Pasalnya harus memastikan keselamatan dan kesehatan karyawan, pasien, pengunjung, maupun masyarakat sekitarnya. Tujuannya supaya tidak ada kecelakaan kerja yang bisa merugikan semua pihak.

Petugas K3 ini ikut berperan menjaga standar mutu sebuah fasilitas kesehatan. Pasalnya melindungi kemungkinan dampak negatif yang bisa ditimbulkan dari pelayanan kesehatan, fasilitas sarana dan prasarana yang ada di lingkungan tersebut saling berkaitan. Jadi tidak hanya sebatas terjadinya kecelakaan kerja seperti kebakaran atau insiden lainnya.

Tidak heran jika petugas K3 Fasilitas Kesehatan memerlukan keahlian khusus. Tidak hanya menguasai tentang fasilitas kesehatan tempatnya bekerja. Namun juga kemampuan tentang K3 dan perundang-undangan yang berlaku.

Petugas K3 Fasilitas Kesehatan Harus Bersertifikasi

Setiap Petugas K3 Fasilitas Kesehatan harus sudah lulus uji kompetensi di bidang tersebut. Hal ini karena setiap Petugas harus memiliki keahlian di bidangnya. Apalagi, bidang K3 memang membutuhkan pemahaman dan kemampuan untuk menjalankannya.

Tidak heran jika kemudian sebelum menjalankan tugas sebagai Petugas K3 Fasilitas Kesehatan harus mengikuti pelatihan. Pelatihan ini ditujukan untuk bisa memperoleh SDM yang profesional di bidang K3. Untuk lebih jelasnya, berikut manfaat mengikuti training petugas K3.

  • Calon petugas memahami dan menguasai prinsip K3.
  • Calon petugas paham dan patuh pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  • Calon petugas akan paham membuat program K3 dan melakukan dokumentasi.
  • Calon petugas mampu mengaplikasikan K3.
  • Paham dan mampu tentang patient safety.
  • Mampu menetapkan program pencegahan insiden, misalnya saja menetapkan APD (alat pelindung diri).
  • Mampu melakukan identifikasi risiko, terutama tentang efek obat kimiawi, biologis, limbah, dan sebagainya.
  • Dan masih banyak lagi.

Kemudian apakah pihak fasilitas kesehatan harus memberikan pelatihan sendiri? Pelatihan sebenarnya bisa dilakukan oleh pihak ke-3. Salah satunya adalah PT Ayana Duta Mandiri. Perusahaan ini bergerak di bidang jasa training. Termasuk training untuk petugas K3 fasilitas kesehatan.

Tidak hanya sekadar teori, namun juga akan diajarkan simulasi dan studi interaktif. Setelah selesai pelatihan, setiap peserta akan diuji kompetensinya. Kemudian akan diberikan sertifikat. Sertifikat yang diberikan dikeluarkan langsung oleh BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi).

Seorang Petugas K3 yang sudah memiliki sertifikat berarti diakui keahliannya di bidang tersebut. Sertifikat ini berlaku untuk seluruh fasilitas kesehatan yang ada di Indonesia.

Lalu apakah uji kompetensi yang dilakukan untuk bisa memperoleh sertifikat sulit? Kemudian apakah materi pelatihan sudah termasuk dalam materi uji kompetensi nantinya?

Materi pelatihan sudah berdasarkan uji kompetensi yang akan dilakukan untuk memperoleh sertifikat. Jadi bisa dikatakan materi training sangat bermanfaat dalam memperoleh sertifikat dari BNSP tersebut.

Persyaratan Memperoleh Sertifikasi BNSP

Dalam memperoleh sertifikat yang dikeluarkan oleh BNSP dibutuhkan uji kompetensi. Uji kompetensi ini akan dilakukan oleh ahli di bidang tersebut. Akan ada banyak dokumen yang harus disiapkan. Namun, diantaranya, peserta harus menguasai keahlian di bidang K3 Fasilitas Kesehatan.

Tidak heran jika calon petugas K3 Fasilitas Kesehatan memang harus ditunjuk dari orang yang paham tentang hal tersebut. Minimal paham tentang fasilitas kesehatan tempatnya bekerja. Kemudian, untuk masalah K3, bisa dilakukan pelatihan secara intensif.

Lalu apa saja uji kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta yang akan mencari sertifikat tersebut? Ada beberapa hal yang akan diujikan untuk bisa memperoleh sertifikat tersebut. Berikut beberapa materi uji kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta.

  1. Merancang Strategi Pengendalian Risiko K3 di Tempat Kerja

Dalam mengendalikan risiko K3 ternyata ada tingkatannya. Ada lima tingkatan dalam hal tersebut, yakni eliminasi, substitusi, perancangan, administrasi, dan APD. Mari bahas satu persatu.

  • Eliminasi

Eliminasi adalah mengurangi atau menghilangkan sumber bahaya saat itu juga. Misalnya saja ada peralatan rumah sakit yang sudah usang. Bila digunakan dalam waktu lama akan menyebabkan masalah, misalnya meledak atau terbakar. Lebih baik, mengganti alat tersebut dengan yang baru. Sedangkan alat yang lama dipensiunkan.

Hal tersebut termasuk dalam menghilangkan sumber bahaya. Daripada membahayakan, lebih baik tidak digunakan kembali. Hal ini akan mempengaruhi mutu dan keamanan.

  • Substitusi

Substitusi ini merupakan cara untuk mengganti sebagian yang mengalami kerusakan. Jika eliminasi, langsung tidak menggunakan barang yang rusak. Substitusi hanya mengganti bagian dari alat yang rusak.

Hal ini biasanya berhubungan dengan dana yang dimiliki oleh fasilitas kesehatan tersebut. Misalnya saja suatu alat yang besar dengan harga mahal mengalami masalah. Maka untuk menekan biaya, cukup mengganti spare part yang mengalami masalah saja.

  • Engineering Control

Cara ini dilakukan ketika substitusi tidak bisa diaplikasikan. Misalnya saja salah satu peralatan rumah sakit mengeluarkan suara bising. Kemudian, pihak Rumah Sakit memodifikasinya supaya suara tersebut tidak muncul kembali.

  • Administrasi

Ternyata selain dilakukan secara eliminasi, substansi, dan engineering control, ada satu cara untuk mengatasi bahaya. Ketika ada suatu alat yang mengalami masalah, diterapkan aturan pemakaian. Misalnya saja, alat tersebut akan mengeluarkan suara bising dan panas jika digunakan lebih dari 3 jam. Maka buat aturan untuk menggunakan alat di bawah 2 jam. Kemudian matikan, dan biarkan istirahat. Selang satu jam kemudian, baru bisa digunakan kembali. Aturan ini akan menghindari kerusakan alat yang lebih parah.

  • APD

APD adalah alat pelindung diri. Ini biasa digunakan oleh petugas kesehatan saat bekerja. Misalnya saja pada masa pandemi, semua petugas kesehatan yang bekerja wajib menggunakan masker, baju hazmat, pelindung kepala, serta face shield. Hal ini untuk melindungi diri dari virus atau bakteri yang mungkin bisa tertular.

  1. Merancang Sistem Tanggap Darurat

Kondisi darurat pasti bisa terjadi di mana saja, termasuk fasilitas kesehatan. Kondisi darurat yang bisa terjadi misalnya saja bencana alam atau kesalahan sumber daya manusia.

Seorang petugas K3 harus sudah menyiapkan sistem tanggap darurat. Langkah yang bisa dilakukan dalam merancang sistem ini adalah sebagai berikut.

  • Pahami dan pelajari kondisi darurat.
  • Pelajari dan analisis sumber daya yang dimiliki.
  • Membuat rencana jika terjadi bencana atau kondisi darurat.
  • Sosialisasikan hal tersebut kepada semua pegawai fasilitas kesehatan, jika perlu latih.
  • Lakukan evaluasi terhadap sistem yang telah dibuat.
  1. Menerapkan Program Pelayanan Kesehatan Kerja

Kesehatan merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh setiap orang. Demikian juga petugas K3 harus menerapkan program pelayanan kesehatan kerja secara menyeluruh. Yakni memastikan seluruh karyawan tidak terpapar kemungkinan zat berbahaya di fasilitas kesehatan. Kemudian juga adanya tanggung jawab dari instansi jika ada pegawai yang ternyata sakit akibat pekerjaan, dan sebagainya.

Ketiga hal di atas hanyalah sedikit dari kompetensi yang harus dimiliki oleh petugas K3 Fasilitas kesehatan. Sebenarnya minimal ada 6 poin kompetensi yang harus dimiliki oleh calon petugas kesehatan K3 untuk memperoleh sertifikatnya. Berikut rinciannya.

 

No.

 

Kode Unit

 

Judul Unit

Jenis Standar (Standar Khusus/Standar Internasional/SKKNI)
1. M.71KKK01.001.1 Merancang Strategi Pengendalian Risiko K3 di Tempat Kerja SKKNI K3 UMUM
2. M.71KKK01.002.1 Merancang Sistem Tanggap Darurat SKKNI K3 UMUM
3. M.71KKK01.004.1 Mengawasi Pelaksanaan Izin Kerja SKKNI K3 UMUM
4. M.71KKK01.009.1 Menerapkan Program Pelayanan Kesehatan Kerja SKKNI K3 UMUM
5. M.71KKK01.011.1 Menerapkan Manajemen Risiko K3 SKKNI K3 UMUM
6. M.71KKK01.012.1 Mengevaluasi Pemenuhan Persyaratan dan Prosedur K3 SKKNI K3 UMUM

Selain harus memenuhi kompetensi di atas, ada beberapa syarat administrasi lain yang harus dipenuhi oleh calon petugas K3 fasilitas kesehatan. Berikut rinciannya.

  • Bukti Kelengkapan Persyaratan Dasar Pemohon
No. Bukti Persyaratan
1. Pas photo 3×4 sebanyak 2 lembar
2. Photo copy Ijazah terakhir
3. Photo copy Sertifikat kursus terkait K3
4. Photo copy KTP / Paspor / Kitas
5. CV atau Surat Keterangan Pengalaman kerja
6. Surat Rekomendasi dari Pimpinan / Atasan Langsung / Rekanan Kerja (bila ada)
  • Persyaratan Pendidikan 
No. Bukti Persyaratan
1 Sarjana S1 K3 minimal pengalaman 6 bulan, serta telah mengikuti pelatihan berbasis kompetensi terkait K3 sesuai dengan skema yang akan diases
2 Sarjana S1 Teknik minimal pengalaman 6 bulan, serta telah mengikuti pelatihan berbasis kompetensi terkait K3 sesuai dengan skema yang akan diases
3 Sarjana S1 non Teknik minimal pengalaman 1 tahun, serta telah mengikuti pelatihan berbasis kompetensi terkait K3 sesuai dengan skema yang akan diases
4 Diploma 3 K3 dengan minimal pengalaman 1 tahun, serta telah mengikuti pelatihan berbasis kompetensi terkait K3 sesuai dengan skema yang akan diases
5 Diploma 3 Teknik dengan minimal pengalaman 1 tahun, serta telah mengikuti pelatihan berbasis kompetensi terkait K3 sesuai dengan skema yang akan diases
6 Diploma 3 non Teknik minimal pengalaman 1 tahun, serta telah mengikuti pelatihan berbasis kompetensi terkait K3 sesuai dengan skema yang akan diases
7 SLTA Sederajat minimal pengalaman 3 tahun, serta telah mengikuti pelatihan

berbasis kompetensi terkait K3 sesuai dengan skema yang akan diases

  • Bukti Kompetensi yang Relevan 
No. Rincian Bukti Pendidikan/Pelatihan, Pengalaman Kerja, Pengalaman Hidup
1 Bukti Pengisian Forms Pre Job Activity (PJS) -Contractor Safety Management System (CSMS)
2 Bukti Pengisian Form Work In Progress
3 Bukti melakukan verifikasi/ review form Ijin Kerja yang diajukan Oleh Kontraktor dan disetujui oleh Otoritas area/ lapangan
4 Bukti pelaksanaan Inspeksi K3
5 Bukti pembuatan      HIRADC dan JSA (Hazard Identification Risk Assesment & Determined Control), di lokasi Kerja.
6 Bukti pengisian form Investigasi Kecelakaan
7 Bukti dapat melakukan Pengukuran Bahaya K 3 ditempat Kerja (mulai dari perencanaan sampai dengan pelaporan akhir).contoh , Kebisingan, daerah yang mudah terbakan dan meledak, daerah Gas Beracun.

Insiden kerja memang bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Itulah mengapa sangat penting bagi setiap Fasilitas Kesehatan memiliki petugas khusus untuk menjalankan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Bagaimana menurut Anda tentang peran Petugas K3 bagi Fasilitas Kesehatan?

Leave a Reply