You are currently viewing Pelatihan Kebakaran (Fire Fighting) | PT. Ayana Duta Mandiri

Pelatihan Kebakaran (Fire Fighting) | PT. Ayana Duta Mandiri

Gambar Pelatihan

Kebakaran termasuk salah satu ancaman berbahaya yang bisa mengakibatkan korban jiwa jika tidak dilakukan upaya pencegahan yang tepat. Terlebih lagi kondisi masyarakat secara umum yang masih memiliki tingkat kesadaran yang rendah dalam hal ini.

Fenomena rendahnya tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran menyebabkan tingkat kebakaran sangat tinggi dan memberikan dampak kerugian yang sangat besar.

Oleh karena itu, masyarakat membutuhkan pelatihan yang bisa menjadi tambahan pengetahuan bagi mereka terkait pencegahan kebakaran, sehingga tingkat kebakaran bisa diminimalkan dan dampak yang ditimbulkannya bisa berkurang.

Tidak hanya penting bagi masyarakat, Pelatihan Kebakaran (Fire Fighting) juga sangat penting bagi sebuah perusahaan. Sebab, setiap perusahaan umumnya memiliki divisi atau departemen yang bertugas untuk menanggulangi kebakaran. Tim yang bertanggung jawab tersebut harus memiliki pengetahuan yang memadai terkait kebakaran, agar mereka mampu menjalankan tugas mereka dalam bidang ini dengan professional.

Untuk mewujudkan hal tersebut di atas, dibutuhkan Training dan Pelatihan Kebakaran (Fire Fighting) secara khusus.

Tujuan Pelatihan Kebakaran (Fire Fighting)

Setelah mengikuti Training dan Pelatihan Kebakaran (Fire Fighting), diharapkan para peserta memiliki beberapa hal berikut ini.

  • Memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya kesigapan perusahaan menghadapi keadaan darurat yang bisa terjadi.
  • Memiliki bekal pemahaman yang cukup terkait konsep pencegahan dan penanggulangan kebakaran, baik yang terjadi di kantor maupun di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
  • Memiliki kemampuan untuk melakukan evaluasi dan pelaporan peralatan proteksi kebakaran.
  • Mampu melakukan pemadaman api ringan dan berkoordinasi tingkat lanjut dengan management tanggap darurat lainnya.
  • Mampu bekerja secara berkelompok untuk mengorganisasi pada keadaan darurat khususnya kondisi kebakaran.

Manfaat Pelatihan Kebakaran Bagi Perusahaan

Sangat penting bagi sebuah perusahaan untuk membekali diri dengan K3 kebakaran. Karena bencana kebakaran dapat memakan banyak korban. Serta perusahaan terancam mengalami kerugian besar. Pembekalan yang dianjurkan adalah memberikan training kepada tim ahli K3.

Sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap keselamatan, tim K3 perlu memastikan kondisi aman. Kemampuan untuk menanggulangi kecelakaan kerja perlu dikuasai. Sehingga melalui Pelatihan Kebakaran, para ahli K3 ini akan mendapatkan ilmu bermanfaat. Mengikutsertakan tim K3 pada Training Fire Fighting memberi manfaat lebih pada perusahaan.

  • Menilai Tingkat Resiko Terjadinya Kebakaran di Lingkungan Kerja

Kemampuan menilai resiko kebakaran di area kerja menjadi tugas yang wajib diselesaikan oleh perusahaan, terutama pihak K3. Penilaian tingkat resiko kebakaran sangat berkaitan dengan sistem evaluasi. Topik yang dibahas sangat kompleks. Dimulai dari faktor apa saja yang menyebabkan kebakaran. Dilanjutkan dengan kemungkinan terjadinya kebakaran hingga akibat terjadinya kebakaran.

Penilaian resiko kebakaran ini telah tertuang pada Regulatory Reform (Fire Safety) 2005. Sedangkan, di tanah air Indonesia mengacu pada National Fire Protection Association (NFPA) dan Peraturan Menteri PU No. 26 Tahun 2008. Penilaian ini perlu diterapkan sebagai upaya mencegah meluasnya titik api.

  • Mengidentifikasi Sumber Kebakaran

Melakukan identifikasi terhadap bahaya kebakaran semestinya diterapkan dalam regulasi perusahaan. Tujuannya untuk menganalisa kondisi yang memungkinkan terjadinya kebakaran. Oleh karena itu, diperlukan tim K3 yang terlatih untuk menangani hal ini.

Orang yang melaksanakan identifikasi adalah orang-orang berkompeten. Sehingga tidak bisa ditugaskan pada sembarang pekerja. Karena akan dilakukan tindakan selanjutnya. Adapun keterkaitan pekerja lain sebagai upaya mencari potensi yang tidak terduga. Karena bisa saja terdapat potensi kebakaran yang selama ini tidak disadari.

  • Mencegah Kerugian yang Timbul

Menjadi tim K3 kebakaran pada suatu perusahaan bukan perkara gampang. Masing-masing anggota harus memenuhi syarat, seperti mendapatkan Pelatihan Kebakaran (Fire Fighting). Dengan kata lain, seluruh personil wajib memiliki sertifikasi sesuai dengan keahliannya. Karena tanggung jawab yang diemban cukup berat.

Salah satu manfaat dari adanya tim ini adalah mencegah kerugian karena kebakaran. Penilaian dan identifikasi bahaya berguna untuk merancang sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. Sehingga bahaya dapat diketahui sebelum terjadi. Tentu saja diperlukan pengendalian yang baik untuk mencegah kebakaran.

Bayangkan saja, berapa banyak kerugian yang dialami jika api besar menyala. Sedangkan api tersebut sulit dipadamkan jika terlanjur meluas. Selain melahap aset perusahaan, juga bisa memakan korban jiwa.

  • Mampu Melaksanakan Pemadaman Saat Terjadi Kebakaran

Siapa saja bisa memadamkan api. Bahkan setiap cara bisa diterapkan oleh seluruh pekerja. Hanya saja, menyerahkan pada ahlinya tentu lebih aman. Karena tim Fire Fighting telah mendapatkan training dan sertifikasi. Sehingga penanganan dilakukan secara teknis. Berbeda dengan pekerja bisa tanpa pelatihan.

  • Mampu Melakukan Evaluasi K3

Faktor utama yang menyebabkan kecelakaan kerja berasal dari kelalaian pekerja. Tapi ada sebab lain yang tak kalah penting, yaitu kegagalan mengenali potensi bahaya. Padahal bahaya tersebut bisa dicegah sesegera mungkin.

Pelatihan Kebakaran tidak hanya mengajarkan bagaimana memadamkan api. Tapi juga materi yang berkaitan dengan K3. Kemampuan yang perlu dikuasai petugas K3 kebakaran adalah melakukan evaluasi. Pelaksanaannya tidak hanya dilakukan saat terjadi kebakaran atau kecelakaan kerja.

Evaluasi terhadap hal yang berkaitan dengan perkerjaan dan area kerja dilakukan secara berkala. Proses ini cukup penting karena petugas melakukan serangkaian kegiatan. Mulai dari melakukan pemeriksaan, menentukan rencana dan membuat keputusan. Tindakan ini dapat memastikan prosedur atau standar dilaksanakan dengan tepat.

Materi yang Didapatkan dari Pelatihan Kebakaran (Fire Fighting)

Dari Training Fire Fighting, pekerja mendapatkan pengetahuan yang lebih luas. Pelatihan akan mengulas lebih dalam tentang kebakaran hingga sistem manajemen K3 yang tepat. Secara garis besar, pekerja akan memperoleh materi sebagai berikut:

  • Fenomena Kebakaran

Sebelum melangkah ke hal teknis, training dimulai dengan materi paling dasar. Pembahasan pertama adalah tentang pengertian kebakaran itu sendiri. Api merupakan betuk reaksi kimia. Pada prosesnya diikuti dengan efek yang mengeluarkan panas, asap, cahaya dan bara. Sementara, api kecil bisa menyebabkan nyala yang lebih besar. Fenomena ini disebut kebakaran.

Kebakaran disebut sebagai suatu musibah. Munculnya kebakaran berasal dari api yang sulit dikendalikan. Bencana ini sangat tidak diinginkan oleh sebuah perusahaan. Karena dapat menimbulkan kerugian besar. Karena dapat mengancam keselamatan para pekerja. Sistem manajemen K3 perusahaan juga akan dipertanyakan.

Munculnya kebakaran erat kaitannya dengan teori segitiga api atau teori piramida api. Berdasarkan teori segitiga api, kebakaran disebabkan oleh bahan bakar, oksigen dan panas. Sedangkan dalam piramida api, menyebutkan bahwa tiga faktor penyebab saja tidak cukup membentuk api. Sehingga terdapat klasifikasi kebakaran dari segi penyebabnya.

  • Kebakaran Kelas A. Terjadinya kebakaran kategori kelas A disebabkan oleh benda padat, kecuali logam. Benda tersebut bersifat mudah terbakar, seperti kayu,kertas, plastik, kain, busa dan karet.
  • Kebakaran Kelas B. Bahan yang berupa cairan atau gas menjadi penyulut api pada kelas B. Cairan bersifat combustible dan flammable bisa memperparah kondisi jika tidak segera ditangani. Contohnya, minyak tanah, oli, dan bensin.
  • Kebakaran Kelas C. Kebakaran kelas C ditimbulkan oleh aliran listrik. Listrik yang bertegangan terjadi arus pendek. Sehingga muncul percikan api yang mengenai bahan mudah terbakar.
  • Kebakaran Kelas D. Tipe kelas D berasal dari bahan logam. Jenis yang mudah terbakar, antara lain kalium, magnesium, aluminium, titanium dan yang lainnya.
  • Bahaya dari Ledakan atau Kebakaran

Baik kebakaran kecil maupun besar, memberi dampak yang merugikan. Kondisi yang tidak diinginkan ini bahkan cenderung sulit diantisipasi. Pengendaliannya pun tergolong susah. Apalagi api sulit dikendalikan jika telah membesar dan terjadi ledakan sehingga menimbulkan kerugian yang sangat disesali.

  • Keselamatan Jiwa. Bahaya ini cukup mengancam pekerja. Sehingga menjadi hal yang paling ditakuti dan diantisipasi. Sistem penyelamatan menitik beratkan pada proses evakuasi atau penyelamatan. Sehingga mengamankan para pekerja saat terjadi kebakaran merupakan prioritas.
  • Kerugian Materi. Kerugian materi ini akan dihitung setelah proses penyelamatan. Ini dilaksanakan oleh pihak tertentu. Biasanya, berhubungan dengan aset perusahaan yang terbakar, kehilangan produksi dan lain-lain.
  • Kerugian Sosial. Kebakaran menyebabkan kerugian sosial yang berdampak langsung pada pekerja. Pada kondisi yang parah dapat menghancurkan perusahaan. Sehingga terpaksa merumahkan para pekerjanya. Lebih parah lagi, kemungkinan perusahaan mengalami kebangkrutan. Ini menyebabkan munculnya PHK massal.
  • Kerugian Lingkungan. Bahaya ini sering kali luput dari pantauan. Lingkungan sekitar bisa terkena imbas dari kebakaran. Karena terjadi peningkatan kadar karbondioksida. Tanpa disadari menyebabkan polusi udara pada area sekitar lokasi kebakaran.
  • Kerugian Ekonomi. Masalah finansial perusahaan menjadi efek setelahnya. Perusahaan merugi karena tidak bisa berproduksi. Sehingga proses operasional pun berhenti. Bisnis tidak berjalan semestinya karena bencana yang tak disangka.
  • Karakteristik Bahan Bakar

Bahan bakar merupakan materi atau senyawa yang dapat berubah menjadi energi. Sumber daya ini biasanya menghasilkan energi panas yang dilepas. Oleh karena itu, sangat erat kaitannya dengan pembakaran. Bahan tersebut akan melalui proses melepaskan panas saat bereaksi dengan oksigen.

Selain itu, proses melepaskan energi juga bergantung pada reaksi kimia. Bahan lain mudah terbakar dari logam radioaktif juga sering digunakan dalam pekerjaan. Oleh karena itu, dalam bekerja manusia erat dengan bahan mudah terbakar. Dengan Training Fire Fighting, setidaknya para pekerja dapat memahami karakter dari bahan bakar yang digunakan.

Masing-masing perusahaan menggunakan bahan bakar untuk mendukung proses produksi. Jenisnya bergantung pada kebutuhan dan kategori bidang perusahaan. Sehingga bahan bakar yang dipakai memiliki tujuan tertentu. Pembakaran dapat berjalan optimal dengan penggunaan bahan yang sesuai.

  • Analisa Resiko Kebakaran

Agar bisa mencegah datangnya musibah kebakaran, maka perusahaan wajib melakukan analisa potensi kebakaran. Perlu mengetahui faktor penyebab munculnya kebakaran. Mengingat, bencana ini bisa terjadi kapan saja. Terlebih lagi kelalaian masih menjadi peringkat tertinggi sebagai asal mula kecelakaan kerja.

Level bahaya dan resiko bergantung pada kondisi lingkungan kerja. Sementara perusahaan yang bergerak pada bidang industri memiliki resiko bahaya yang lebih besar dan spesifik. Sayangnya, setiap pekerja tidak menyadari bahaya dari tugas yang sedang dikerjakan.

Kemampuan mengenali dan menganalisa jenis bahaya menjadi kunci menaklukkan kecelakaan kerja. Dari analisa resiko ini akan dikembangkan untuk mengidentifikasi potensi bahaya, evaluasi dan pencegahan. Sehingga tercipta sistem proteksi kebakaran yang dapat menyelamatkan pekerja dan perusahaan.

  • Tanggap Darurat Kebakaran

Pekerja yang terlatih dapat mempelajari tanggap darurat terhadap kebakaran. Ini menjadi poin penting dalam upaya meredam kebakaran di tempat kerja. Kemampuan untuk melakukan evakuasi tepat waktu merupakan syarat pengendalian.

Untuk menciptakan sikap tanggap darurat memerlukan kerja sama dari seluruh pihak. Seluruh pekerja perlu mendapatkan instruksi oleh tim ahli K3. Tamu pun wajib diberitahu mengenai prosedur keselamatan dan evakuasi.

Sementara itu, tim yang ditunjuk wajib mengikuti Pelatihan Kebakaran tentang manajemen kebakaran dan prosedur tanggap darurat. Training ini memerlukan penerapan dan penyegaran secara rutin.

Sikap tanggap terhadap kebakaran fokus pada upaya pengendalian dan keselamatan. Tindakan ini bekerja secara efektif dengan menerapkan sistem manajemen tanggap darurat. Penanggulangan kebakaran bekerja optimal dengan dukungan sistem proteksi aktif dan pasif. Oleh karena itu, sangat penting semua gedung mendapatkan fasilitas penyelamatan.

  • Jenis Alat Pemadam Kebakaran

Jika kebakaran terjadi, penting bagi ahli K3 untuk melakukan pemadaman segera. Tapi, petugas pemadam perlu mengetahui jenis alat yang digunakan. Karena setiap peralatan memiliki karakteristik berbeda. Dari segi cara dan tujuan juga berbeda sehingga memerlukan keterampilan.

Ditinjau dari segi nyala api pun dapat diketahui jenis alat pemadam yang tepat. Pada suatu kondisi, cara tradisional, seperti menggunakan karung goni atau pasir masih diperlukan. Tapi, tidak tepat diterapkan pada kebakaran yang bersifat umum. Terlebih lagi perusahaan beresiko lebih besar. Sehingga memerlukan peralatan yang sepadan.

  • Hydrant

Hydrant merupakan sumber air yang digunakan untuk memadamkan api. Alat ini diletakkan pada area tertentu. Terdapat tandakhusus pada setiap hydrant. Alat ini bisa disambungkan pada fire hose.

  • Fire Alarm System

Dalam sistem ini berisi rangkaian alat yang memiliki fungsi masing-masing. Tiap alat dirangkai sehingga saling berkaitan satu sama lain. Sensor-sensor aktif ditempatkan secara khusus. Keluaran dari rangkaian ini membentuk sinyal yang menunjukkan adanya bahaya kebakaran. Jika api muncul, sistem ini mengeluarkan bunyi sebagai tanda peringatan.

  • APAR

Kepanjangan dari alat ini adalah Alat Pemadam Api Ringan. Bentuknya berupa tabung yang mudah dibawa. APAR biasanya sering terlihat di bangunan. Paling tidak ditempatkan pada titik tertentu yang mudah dijangkau. Alat ini bisa dioperasikan satu orang. Terdapat pengukur tekanan (Pressure Gauge) yang menampilkan jumlah tekanan.

  • Hydrospray

Penggunaan hydrospray terbatas pada kebakaran tipe A. Terdapat indikator tekanan air pada alat ini. Indikator berwarna hijau menandakan alat sudah aman dipakai.

  • Drychemical Powder

Seperti namanya, alat pemadam kebakaran ini berbentuk serbuk kering. Berasal dari perpaduan dari Mono-amonium dan Amonium sulphate. Serbuk ini menutup titik api. Sehingga oksigen akan terpisahkan. Alat ini dapat digunakan untuk kebakaran kelas A, B, C dan D.

  • Gas Cair Hallon

Cara kerja gas ini mengikat oksigen yang berada di sekitar titik kebakaran. Alat ini termasuk efektif digunakan. Karena dapat diterapkan pada berbagai tipe kebakaran. Kandungan bahannya tidak beracun dan tidak menghantarkan listrik. Sangat cocok untuk memadamkan api di dalam ruangan.

  • Tindakan Pencegahan Kebakaran

Langkah pencegahan penting dilaksanakan untuk menghindari kebakaran. Bahkan sebelum gedung dibangun, rancangan penanggulangan kebakaran harus terkonsep. Pelatihan terhadap pekerja yang kompeten dalam K3 perlu mendapat pelatihan khusus. Dengan begitu, setiap potensi bahaya dan pengendalian ditangani oleh orang ahli. Tambahan prosedur yang tepat akan menyelaraskan kegiatan K3 dengan proses produksi.

Kebakaran termasuk dalam bahaya yang mengancam keselamatan dan kesehatan pekerja. Sementara, jaminan keamanan ini merupakan tanggung jawab perusahaan. Untuk itu, sangat penting bagi perusahaan membekali pekerjanya dengan kemampuan K3 Kebakaran. Melalui Pelatihan Kebakaran ini, para ahli K3 akan mendapatkan sertifikasi. Sebagai bukti kelayakan dan perizinan bertugas dalam manajemen K3.

PT Ayana Duta Mandiri dapat membantu perusahaan dalam memberikan Training & Pelatihan Kebakaran (Fire Fighting), sehingga setiap pihak yang terlibat dalam perusahaan tersebut memiliki pengetahuan, kesadaran, serta daya tanggap yang tinggi terkait kebakaran, pencegahan, serta cara menanganinya.

PT Ayana Duta Mandiri sendiri merupakan perusahaan yang sudah lama berkecimpung di bidang konsultan manajemen & training dengan segudang pengalaman dalam hal mengembangkan, mengoptimalkan, maupun mengimplementasikan Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3) di perusahaan, termasuk dalam hal ini Pelatihan Kebakaran (Fire Fighting).

Leave a Reply